Budidaya Kelor Indonesia

Diskursus Mistik Pohon Kelor

Ditulis oleh Prof Dr. Apollo

Memang kadang-kadang manusia yang merasa dirinya paling benar, bijaksana merasa sombong dan membabibuta membela apapun  pegangannyanya pada apa yang dianggap [“benar”]. Orang sombong dan merasa benar sendiri seperti manusia di atas gunung, kemudian memandang semua manusia lain adalah  bodoh dan kecil dibawahnya, padahal pada saat yang sama orang lain memandang dirinya juga kecil kerdil dan picik.

Saya agak prihatin jika ada anggapan terlalu radikal jika mengkaitkan kata “mistik” karena ada persepsi  yang muncul sebagai bentuk menyesatkan, berbahaya pada iman manusia, dan bisa-bisa memiliki konotasi yang negative atau malahan dianggap melawan hakekat manusia yang wajib tunduk dan patuh pada Kekusaan Tuhan Yang Maha Esa.

Tetapi diskurus stigma negative seperti itu, bisa saja berubah  jika dengan mental terbuka untuk belajar atau proses belajar lebih luas, dan lebih dalam apakah benar kata [mistik] memiliki makna yang buruk, jahat, berbahaya, dan remeh temeh tidak berguna, dan merusak iman manusia. Pohin dan daun kelor mendapat ruang mystically tanpa menanggalkan argument rasional yang menjadi basis diskusi tentang manfaat gizi dan ekonomis dari kelor. Maka diskursus ini adalah menampilkan daun kelor memiliki fungsi mistik.

Tulisan ini membahas tentang apakah ada fakta empiric bahwa Mistik Pohon Kelor adalah benar, dan relevan dalam kebudayaan sebagian wilayah di Indonesia. Di Dunia Barat disebut Pohon Kelor Sebagai “The Miracle Tree” atau Pohon Ajaib atau pohon Kelor atau merunggai (Moringa oleifera) memiliki sejarah tersendiri dan dikaitkan dengan mistik tertentu. Pohon ini banyak dipakai dan ditanam sebagai tapal batas atau pagar di halaman rumah atau sawah ladang. Sangat mudah tumbuh dan subur tanpa menggunakan perawatan khusus.

Pada tulisan ini saya juga melakukan penelitian selama 1 minggu tentang persepsi dan pengguna masyarakat di wilayah Jawa Tengah tentang hakekat mistik pada daun, atau pohon Kelor. Tidak mewakili secara umum tentu saja penelitian ini, dan memungkinkan adanya gagasan baru atau penelitian silang untuk melakukan koreksi jika memang ada hasil lain yang berbeda. Maka penelitian ini bersifat sementara sebagai diskursus awal penelitian.

Hasil studi etnografi saya pada beberapa responden menyatakan banyak sekali manfaat seluruh isi pohon kelor, terutama untuk obat herbal atau alami, atau membantu aktivitas manusia lainnya termasuk ebagai sayur, teman makan dengan nasi dan lauk untuk makanan sehari-hari. Mulai dari akar, batang, kulit, ranting, daun, dan buah kelor bermanfaat secara umum bagi kepentingan manusia.  Tentu saja penemuan riset dan teknologi telah memahami manfaat pohon kelor dengan rasio instrumental manusia dalam kaitan dengan relevansi manfaat pada kehidupan manusia. Maka fungsi dan manfaat pohon kelor lebih banyak berperan dalam martabat manusia wujud budaya rasionalitas.

Maka wajar jika kemudian Badan Kesehatan Dunia (WHO) memberikan rekomendasi  balita mengonsumsi daun kelor. Selain itu, WHO juga menobatkan kelor sebagai pohon ajaib  dan menemukan  a kelor berjasa sebagai penambah kesehatan lebih berbiaya murah selama 40 tahun di negara-negara di dunia.

National Institute of Health pada tanggal 21 Maret 2008 mengeluarkan hasil riset tentang pohon kelor   sebagai obat oleh berbagai kelompok etnis asli untuk mencegah atau mengobati lebih dari 300 jenis penyakit. Tradisi pengobatan Kuna menunjukkan  300 jenis penyakit dapat diobati dengan daun Kelor atau moringa oleifera.

Pertanyaan berikutnya, apakah ada makna kegunaan diluar rasionalitas manusia yang secara tradisi lisan  turun temurun yang menjadi narasi panjang unsur mistik pada pohon kelor atau mitos sebagai penolak ilmu kebal. Tentu saja jawabannya ada dan ada fakta memang demikian praktik kehidupan sehari-hari.

Daun kelor bisa dipakai untuk mengantarkan kematian seseorang yang sudah lama sakit koma, dan tidak sembuh-sembuh. Bisanya ada kepercayaan seseorang ini memiliki isi badan tertentu yang harus dipindahkan ke tempat lain atau pergi dari badan yang bersangkutan. Maka daun kelor berfungsi secara mistik melepaskan benda-benda atau roh tertentu. Maka mitos tentang daun kelor penghilang roh halus atau bisa mengalahkan roh halus masih ada dalam fakta pada sebagian masyarakat Indonesia. Karena itulah maka ada dan masih dapat dijumpai rumah-rumah yang ada daun kelor diikat kemudian ditaruh di atas pintu rumahnya sebagai penolak bala atau penangkal dedemit, sama seperti dalam tradisi Dayak menggunakan daun Sawang atau daun Hanjuang.

Pohon dan daun kelor begitu perkasa dihadapan kedengkian setan, suanggi, roh halus, adalah wujud  sungguh irasional. Namun masih berjejak dalam ingatan setiap manusia Indonesia pada lapisan masyarakat tertentu bahwa bukan hanya untuk memandikan mayat, tujuannya untuk mengusir ajian, susuk, atau makhluk prewanganyang masih menempel pada tubuh mayat, tetapi kelor menjelma menjadi tanaman ajaib atau tipe tanaman Goib.

Tukang sinden cantik masih muda dan suara merdu  bisa jadi contoh sulit mati, dan harus diminta bantuan dengan daun kelor.  Sehingga sampai pada acaran  memandikan mayat di campur air dan daun kelor agar jika ada dalam tubuh mayat kemampuan luar nalar yang menempel pada tubuh dapat dibersihkan, supaya langgeng. Demikian juga juga manusia sedang terkena kerusupan [gila] atau mengalami ganggung psikologis non medis bisa dipakai daun kelor dijadikan kipas seiring dibacakan mantra tertentu, atau memandikan air dicampur daun kelor kemudian dipakai untuk disiram keseluruh tubuh.  Pohon kelor dan daunnya bisa dipakai sebagai penangkal kekuatan magis, ilmu hitam pellet santet, dan kelenik lainnya.

Maka pada posisi ini sulit dibantah secara diam-diam ada praktik masyarakat pada pohon dan daun kelor yang konon dikonotasikan sebagai tumbuhan pengkal unsur-unsur gaib (dunia metafisik) meskipun kini telah seakan menjadi pohon ajaib bagi kesehatan manusia.

Saya memandang adanya ruang dialektika menarik terbentang di antara realitas aktual yang sedang menampilkan seadanya masyarakat berkeyakinan mistis atas kelor dengan realitas lain dimana orang tidak kemudian menafikan seketika optimisme ontologis atas kelor. Referensi dan memori tentang mistisisme kelor tetap hanya bagian ingatan waktu lampau atau disebut sejarah universal umat manusia. Maka  jejak masa lampau dan bukannya kenyataan saat ini yang bisa meleset dan bisa juga kembali secara sama dalam keabadian. Martin Heidegger [1917–1976) menyatakan dengan kecemasan yang lahir dari imajinasi bukan pula kenyataan tetapi dapat dijadikan bekal demi hal-hal baik yang dapat tercipta.

Nampaknya pohon dan daun kelor adalah bagian ontologis kemampuan merefleksikan mengenai manusia dengan pencirian mutidimensional yang pada satu sisi sangat terbuka tetapi pada sisi yang lain begitu tertutup atau kehilangan kesadarannya. Secara ontologis pohon dan daun kelor menujukkan pada sikap kebebasan manusia dalam memilih,  menentukan kapan dia bertindak dan pada waktu mana dia tidak melakukan hal apa pun melalui kemampuan fakultas akal budi, dan fakultas kesadaran indrawinya menjadi manusia paling unik sejagat untuk menghasilkan peradaban.

Hasil riset saya memiliki beberapa hal-hal penting tentang ontologis, episteme, pada pohon dan daun kelor, dengan meminjam pemikiran mahzab Frankfurt (die Frankfurter Schule) dikaitkan dengan tema mitos dan dialektika pencerahan.  Konsep oleh  Adorno, Horkheimer mengenai [“Odysseus“, dan makna pengorbannya”] agar bisa kembali kekampung halamannya [“Ithaca”] setelah berakhirnya perang Troya.

Pada teks perjalanan pulang itu maka [“Odysseus”] menyamarkan diri dan memperkenalkan diri dengan menyebutnya {“I am Nobody”}. Dalam metafora  [“Odysseus”] mengalami apa disebut dengan “godaan” yang sungguh mematikan ditaklukkan oleh kekuatan mistis (mitos).

Kemampuan melawan keturunan dewa yang luar bisa dengan menyatakan nama sebagai {“Nobody”} adalah sikap supaya tidak dapat dikenali, oleh pihak manapun. Kekuatan dan kemampuan mendalami jiwa dan bukan tubuh (melampaui konsep Rene Descartes dualitas tubuh dan jiwa). Maka pohon dan daun kelor pada simpulan riset saya disebut sebagai {“No body”} atau mirip pada teks [“Odysseus”] dengan “Sirens song” atau nyanyian [“Sirens”] sebuah objek yang tak mampu dikenali dengan finalitas.

Pohon  dan daun kelor adalah diandaikan upaya mencari utara yang sebenarnya (True North) adalah kutub utara bumi atau “Ngalor Jawa, berarti Utara. Atau mirip pada buku Stephen Covey (7 Habits of Highly Effective People).

Maka {“I am Nobody”} bermakna kemampuan menghilangkan jejak tersembunyi dan tetap menjadi misteri. {“I am Nobody”} menunjukkan ketiadakadaan identitas untuk memahami dan menjawab pertanyaan bermakna (a) menyembunyikan diri, (b) membuat semua menjadi abstrak, (c) berada dalam zona territorial abu-abu dan bersifat paradoks. Inilah yang dipakai dalam memahami pohon dan daun kelor sebagai berlanjutan pemikiran {“No body”}. Pohon dan daun kelor adalah paradox mencoba menghilangkan diri melepur, disatu sisi namun pada sisi lain mengalami alienasi globalisasi   atas nama emansipasi.

Makna laiannya adalah secara ontologis pohon dan daun kelor sebagai pencirian pada hakekat manusia Indonesia pada upaya  “pencerahan intelektual adalah proses alienasi diri” menjadi subjek diri yang lain, rumit, dan paradoks. Namun pada kondisi yang sama pohon dan daun kelor sebagai upaya  kondisi menuju tujuan akhirnya (the journey) pada dirinya sendiri.

Maka pohon, dan daun kelor adalah  sama dengan metafora pada tindakan [“Odysseus“] kembali kekampung halamannya [“Ithaca”] setelah berakhirnya perang Troya, telah berhasil melawan takdirnya untuk menentukan nasib diri sendiri dan menghapus segala aturan dan dominasi didalam alam semesta, dan pada faktanya umat manusia tidak bisa dilepaskan pada dunia Mitos yang menyetir kehidupan manusia yang memintanya “persembahan, pengorbanan”, dan penyangkalan diri.

Sumber :
https://www.kompasiana.com/balawadayu/5c80d02343322f7ed3324752/diskursus-mistik-pohon-kelor?page=all

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *